Mobil - otomotifnet.com

LAST UPDATE

Umum

Kamis, 02 Agustus 2012 08:02 WIB

Perilaku di Jalan Raya, Senggol Dikit Berantem!

Penulis : Pilot, Dhea | Teks Editor : Bagja | Foto : Salim, Dhea


Kondisi jalan raya di Jakarta saat ini sudah luar biasa. Macet, tidak teratur, saling serobot, pelanggaran rambu dan lain sebagainya. Akibatnya bisa bikin cepat emosi. Apalagi jika terjadi sesuatu yang berhubungan dengan pengguna jalan lain. Senggol dikit berantem!

“Jika ada motor atau kendaraan lain yang menyenggol kendaraan saya, rasanya saya langsung mau marah. Pertama karena kaget, yang kedua saya tidak terima karena kendaraan saya tersenggol,” ujar M. Rivansyah G.A, mahasiswa yang sering ‘turun’ ke jalan pakai mobil ini.

Reaksi emosi biasanya memuncul pada saat keadaan tertekan atau ada emosi yang tertahan, sehingga reaksi emosi tersebut memunculkan perilaku tertentu. Walaupun, menurut subjek hal yang menjadi penyebab utama adalah rasa lelah di jalan raya.

Menurut Psikolog Fatchiah E. Kertamuda M, Sc banyak faktor yang mempengaruhi pengemudi memunculkan reaksi emosi pada saat di jalan raya. Salah satu faktornya adalah kondisi reaksi emosionalnya pada saat kejadian. Kemudian berpengaruh kepada pola emosional dan prilakunya. “Ketiga hal tersebut yang membuat seseorang bereaksi pada suatu peristiwa,” ungkap wanita berusia 44 tahun ini.

Faktor lain dapat ditinjau dari segi pandang orang tersebut terhadap suatu kejadian. Ada orang atau pengemudi yang meski menghadapi masalah yang sama tetapi tidak marah, emosinya tetap stabil. Tetapi ada juga yang kemarahannya langsung meledak pada saat kendaraannya tersenggol.

Terdapat perbedaan persepsi pada kedua pengemudi di atas sehingga perilaku yang munculpun akan berbeda. Pengemudi yang tidak marah berarti pengemudi yang mempunyai persepsi positif akan kejadian tersebut. “Sedangkan, pengemudi yang emosinya terpancing atau kemarahannya meledak berarti pengemudi tersebut memiliki persepsi yang negatif,” terang wanita asal Lahat, Sumatera selatan ini.

Munculnya reaksi emosi tidak hanya dilihat dari persepsinya saja. Faktor lain yang memicu emosi pengemudi di jalan raya bisa disebabkan lantaran seseorang mempunyai masalah yang tidak terselesaikan. Bisa masalah di rumahnya, masalah pada pekerjaannya, atau bahkan kejadian-kejadian di situasi tertentu yang memicu reaksi emosional tersebut muncul. “Sehingga ada perilaku yang muncul pada saat itu misalnya memukul, atau berkata kasar,” ujar wanita yang mengajar di perguruan tinggi swasta ini.

Bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasinya. Untuk pengemudi yang gampang terpancing emosinya salah satunya adalah optimis bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk membantu bersikap positif terhadap sesuatu.

Jadi, jika seorng pengemudi yang kendaraannya tersenggol oleh kendaraan lain, ada baiknya jika berpikir positif dan berperilaku positif kepada pengemudi yang menyenggol kendarannya. Untuk dapat mengendalikan emosi kita harus mengubah pola pikir kita yang negatif menjadi positif terhadap sesuatu. Pola pikir yang positif terhadap diri kita dan orang lain dapat mengatasi suatu masalah.

“Kemarahan adalah sesuatu yang wajar asalkan jangan menimbulkan perilaku yang merusak. Mengontrol emosi dan menyadari bahwa ia sedang stress atau emosi dapat meringankan beban pikiran sehingga masalah tidak menumpuk yang akhirnya dapat meledak pada saat-saat tertentu,” tambah ibu 3 putri ini.

Selain itu biasakan untuk mengatasi masalah satu per satu. Jangan mengemudi jika banyak pikiran. Selesaikan dulu masalah yang ada. Agar kejadian-kejadian yang ada di jalan raya seperti kemacetan ataupun pada saat bertemu dengan pengemudi yang tidak mau mengalah, tidak menjadi masalah yang besar. Sehingga emosi pun tidak menumpuk dan meledak. (mobil.otomotifnet.com)

Berita Terkait

mobiltv

JW Player goes here

Forum Mobil